ERGA DIGITAL MULTIMEDIA
Broadcast & Visual Production

China Mulai Resah dengan Dracin? Ketika Fantasi Kaya Mendadak Jadi Masalah Negara

Di balik popularitas drama pendek China, muncul kekhawatiran tentang budaya kaya instan, fantasi kekayaan, dan cara masyarakat memandang kesuksesan.

87,792

China perketat dracin atau drama China berdurasi pendek (micro-drama). Kebijakan ini memunculkan perdebatan tentang budaya kaya instan, fantasi kekayaan, dan pengaruh industri hiburan digital terhadap cara masyarakat memandang kehidupan.

Belakangan, muncul kabar bahwa pemerintah China mulai memperketat pengawasan terhadap drama-drama pendek yang dinilai mempromosikan materialisme, pamer kekayaan, dan nilai-nilai sosial yang tidak sehat.

Namun, apakah benar China khawatir masyarakatnya terlalu sibuk berkhayal dan kehilangan semangat untuk menjalani kehidupan nyata?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Belakangan ini, Ada sebuah kabar yang belakangan ramai beredar: China melarang drama China atau dracin karena ceritanya dianggap terlalu halu.

Pemerintah disebut-sebut khawatir masyarakatnya menjadi malas, hanya menunggu keajaiban, berharap diselamatkan orang kaya, atau membayangkan suatu hari tiba-tiba diketahui sebagai pewaris konglomerat.

Benarkah demikian?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

China tidak melarang seluruh drama China. Yang terjadi adalah pemerintah semakin memperketat pengawasan terhadap industri micro-drama, sebuah format drama berdurasi pendek yang berkembang sangat pesat dan menjadi bagian penting dari industri hiburan digital.

Pada 1 September 2026, China memberlakukan aturan baru mengenai pengelolaan micro-drama. Regulasi tersebut mencakup klasifikasi, pendaftaran, pemeriksaan, perizinan, distribusi, hingga tanggung jawab platform.

Sebelumnya, pada Juni 2026, regulator China juga melakukan penertiban terhadap sejumlah konten micro-drama.

Beberapa jenis konten yang menjadi sasaran antara lain pemujaan terhadap uang, pamer kekayaan, gaya hidup bermewah-mewahan, hubungan yang dianggap menyimpang, kekerasan balas dendam, konten vulgar, serta nilai-nilai yang dinilai tidak sehat.

Artinya, kabar mengenai pengetatan industri micro-drama memang memiliki dasar.

Namun, menyimpulkan bahwa China melarang dracin karena takut rakyatnya menjadi malas dan terlalu banyak berkhayal merupakan penyederhanaan yang tidak tepat.

Justru di sinilah persoalannya menjadi menarik: mengapa industri hiburan yang menjual fantasi kehidupan mulai menjadi perhatian serius pemerintah China?

Drama yang Menjual Keajaiban

Coba perhatikan formula sebagian micro-drama yang populer.

Seseorang dihina karena miskin. Beberapa episode kemudian, ternyata ia adalah pewaris keluarga konglomerat.

Seorang perempuan diremehkan. Ternyata ia memiliki identitas luar biasa yang selama ini disembunyikan.

Seorang suami meninggalkan istrinya. Beberapa waktu kemudian, sang istri menjadi kaya raya dan semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.

Ada pula tokoh yang mengalami kematian, kemudian kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kehidupannya.

Semuanya berlangsung cepat, dramatis, dan penuh kejutan.

Formula semacam ini memang sangat mudah menarik perhatian penonton.

Manusia pada dasarnya menyukai kemenangan. Kita senang melihat orang yang dihina akhirnya berhasil, orang miskin menjadi kaya, dan mereka yang meremehkan orang lain akhirnya menyesal.

Masalahnya bukan pada satu atau dua cerita.

Persoalan mulai muncul ketika fantasi semacam itu diproduksi secara masif, dikonsumsi berulang kali, dan berpotensi memengaruhi cara sebagian orang memandang kehidupan.

Ketika Hiburan Berubah Menjadi Cara Memandang Hidup

Apa yang terjadi ketika seseorang terlalu sering mendapatkan kepuasan tanpa harus menyaksikan proses yang menghasilkannya?

Dalam micro-drama, seseorang bisa berubah dari miskin menjadi kaya, dari dihina menjadi dihormati, dari gagal menjadi sukses, atau dari orang biasa menjadi pewaris kerajaan hanya dalam beberapa episode.

Namun, kehidupan nyata tidak bekerja seperti itu.

Belajar membutuhkan waktu. Membangun usaha membutuhkan keberanian menghadapi kegagalan. Membangun karier membutuhkan disiplin. Menjadi ahli membutuhkan latihan panjang.

Membangun reputasi bahkan bisa memerlukan waktu bertahun-tahun.

Tidak ada musik dramatis, tidak ada kamera slow motion, dan tidak ada seorang CEO kaya yang tiba-tiba datang menyelesaikan seluruh persoalan hidup kita.

Itulah perbedaan antara fantasi dan realitas.

Fantasi memberikan hasil secara instan. Realitas menuntut proses.

Tentu saja, menonton drama bukan berarti seseorang otomatis menjadi malas. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana jika budaya hasil instan semakin mendominasi cara masyarakat membayangkan kesuksesan?

Apa yang Sebenarnya Dikhawatirkan Pemerintah China?

Kita perlu membedakan antara fakta kebijakan dan interpretasi terhadap kebijakan tersebut.

Tidak tepat jika mengatakan pemerintah China secara resmi menyatakan bahwa micro-drama dilarang karena membuat rakyat malas.

Namun, regulator China memang secara terbuka menargetkan konten yang dianggap mempromosikan materialisme, pemujaan terhadap uang, dan gaya hidup berlebihan.

Dalam konteks ini, persoalannya bukan sekadar apakah sebuah drama laku atau tidak.

Tetapi nilai apa yang ikut dijual bersama hiburan tersebut.

Sebab industri hiburan tidak hanya menjual cerita. Ia juga menjual impian, standar kesuksesan, gambaran tentang cinta, gambaran tentang kekayaan, dan pada akhirnya ikut membentuk cara seseorang memandang kehidupan.

Ketika kekayaan terus-menerus digambarkan sebagai ukuran utama keberhasilan, sementara proses, tanggung jawab, dan perjuangan hanya menjadi pelengkap cerita, muncul pertanyaan mengenai nilai-nilai yang sedang dibangun melalui industri hiburan.

Inilah salah satu konteks penting untuk memahami kebijakan pengawasan micro-drama di China.

Ironisnya, China Tidak Membunuh Industri Micro-Drama

Ada satu hal yang sering hilang dalam pemberitaan viral.

China justru mengakui bahwa micro-drama telah berkembang menjadi industri dengan nilai ekonomi yang sangat besar.

Menurut data yang disebutkan oleh pejabat regulator China, pasar domestik micro-drama telah melampaui 100 miliar yuan pada 2025, dengan lebih dari 800 juta penonton.

Dalam delapan bulan pertama 2026 saja, sekitar 430.000 micro-drama telah dirilis. Lebih dari 90 persen di antaranya disebut menggunakan teknologi kecerdasan buatan dalam produksinya.

Angka-angka tersebut menggambarkan betapa besarnya industri ini.

Karena itu, kebijakan pemerintah China bukan semata-mata mematikan industri micro-drama.

Sebaliknya, regulator juga mendorong produksi karya yang lebih berkualitas, dekat dengan kehidupan masyarakat, mengangkat budaya, realitas sosial, dan memiliki nilai artistik.

Dengan kata lain, industri tersebut tetap dikembangkan, tetapi pemerintah berusaha mengarahkan konten yang diproduksi dan diedarkan.

Bukan membunuh industrinya, melainkan mencoba menentukan ke mana industri itu bergerak.

Masalahnya Bukan Sekadar Halu

Apakah menonton drama yang penuh fantasi otomatis membuat seseorang malas?

Tentu tidak.

Orang menonton drama karena berbagai alasan. Ada yang mencari hiburan, melepas stres, menikmati cerita, atau sekadar mengisi waktu luang.

Sebagian besar penonton juga mampu membedakan cerita fiksi dengan kenyataan.

Namun, ada persoalan yang lebih serius: bagaimana jika budaya hasil instan menjadi semakin dominan?

Setiap hari kita melihat cerita tentang orang kaya tanpa proses, sukses tanpa perjuangan, cinta tanpa kedewasaan, dan kemenangan tanpa pengorbanan.

Sementara kehidupan nyata justru menuntut kesabaran, keterampilan, kedisiplinan, dan kemampuan menghadapi kegagalan.

Jika jarak antara fantasi dan realitas semakin terasa jauh, kehidupan nyata bisa terlihat membosankan.

Bukan karena kehidupan itu salah, tetapi karena standar kebahagiaan dan kesuksesan yang kita bayangkan mungkin sudah terlalu jauh dari kenyataan.

Kontradiksi antara Industri Hiburan dan Budaya Produktivitas

China selama puluhan tahun membangun kekuatan melalui pendidikan, disiplin, keterampilan, produksi, inovasi, dan kompetisi.

Negara tersebut ingin menjadi kekuatan manufaktur, mengembangkan kecerdasan buatan, memperkuat industri teknologi, dan melahirkan perusahaan-perusahaan besar.

Semua itu membutuhkan manusia yang mampu bertahan menghadapi proses panjang.

Sementara sebagian formula hiburan micro-drama justru menawarkan sesuatu yang berlawanan: hasil tanpa proses.

Di satu sisi, masyarakat didorong untuk belajar, meningkatkan kemampuan, dan bekerja keras.

Di sisi lain, sebagian cerita hiburan menawarkan fantasi bahwa keberhasilan bisa datang secara tiba-tiba karena identitas tersembunyi, kekayaan keluarga, atau keajaiban yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Inilah kontradiksi yang menarik untuk diperhatikan.

Tentu saja, cerita fiksi tidak bisa disamakan dengan kebijakan ekonomi atau pendidikan sebuah negara. Namun, pertentangan antara nilai produktivitas dan fantasi hasil instan layak menjadi bahan refleksi.

china-mengatur-micro-drama-dracin-fantasi-proses.jpg

Fenomena Ini Juga Terjadi di Indonesia

Sekarang mari kita bercermin.

Fenomena budaya hasil instan bukan hanya persoalan China.

Di Indonesia, kita juga melihat industri konten yang menjual janji kaya cepat, viral cepat, sukses cepat, dan terkenal dalam waktu singkat.

Bahkan muncul berbagai narasi yang menawarkan jalan pintas menuju keberhasilan.

Orang baru belajar bisnis ingin langsung menjadi miliarder.

Orang baru membuat konten ingin segera mendapatkan jutaan penonton.

Orang baru mengenal investasi berharap langsung kaya.

Orang baru mempelajari teknologi AI ingin segera menghasilkan puluhan juta rupiah.

Ketika hasil tidak kunjung datang, yang dicari sering kali bukan evaluasi terhadap proses, melainkan trik berikutnya, perangkat berikutnya, guru berikutnya, atau jalan pintas berikutnya.

Tentu tidak semua orang seperti itu. Teknologi, kursus, dan perangkat digital justru bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan.

Namun, ketika pencarian jalan pintas menggantikan kemauan untuk belajar dan membangun keterampilan, di situlah masalahnya.

Persoalan sebenarnya bukan drama China.

Persoalannya adalah hilangnya kesabaran terhadap proses.

Manusia Sejak Dahulu Memang Menyukai Keajaiban

Fenomena ini sebenarnya bukan penyakit generasi sekarang.

Sejak dahulu manusia menyukai kisah keajaiban.

Dahulu ada dongeng tentang pangeran, putri, kerajaan, benda ajaib, dan orang miskin yang tiba-tiba menjadi kaya.

Sekarang bentuknya berubah.

Ada CEO miliarder, pewaris konglomerat, reinkarnasi, perjalanan waktu, sistem kekuatan, hingga tokoh yang mendadak memiliki identitas luar biasa.

Teknologinya berubah, tetapi manusia tidak banyak berubah.

Yang berubah adalah kecepatan kita mengonsumsi fantasi.

Dahulu seseorang mungkin membutuhkan berhari-hari untuk menyelesaikan sebuah novel. Sekarang, puluhan episode micro-drama dapat ditonton dalam satu malam.

Algoritma platform bahkan bisa terus menyajikan cerita serupa berdasarkan kebiasaan menonton penggunanya.

Fantasi yang dahulu hadir sesekali kini bisa tersedia tanpa henti.

Bahaya Terbesarnya Bukan Menonton, Melainkan Menggantikan Realitas

Kita tidak perlu memusuhi hiburan.

Manusia membutuhkan hiburan. Film, drama, musik, dan cerita merupakan bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan.

Namun, kita perlu membedakan hiburan yang memberikan kesenangan dengan hiburan yang berpotensi menggantikan cara kita memahami realitas.

Tidak ada masalah ketika seseorang selesai menonton drama lalu berkata, “Wah, ceritanya seru.”

Persoalannya berbeda ketika seseorang mulai menunggu keberuntungan tanpa berusaha, merasa pantas kaya tanpa membangun kemampuan, atau terus membandingkan kehidupannya dengan gambaran sempurna yang ditampilkan di layar.

Kehidupan nyata tidak selalu memberikan akhir yang indah.

Tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua. Tidak semua perjuangan langsung menghasilkan keberhasilan. Tidak semua orang yang bekerja keras menjadi kaya raya.

Namun, justru dalam menghadapi kenyataan itulah manusia belajar tentang tanggung jawab, ketahanan, dan kedewasaan.

Kesuksesan Tidak Pernah Viral pada Saat Prosesnya

Ada satu hal yang sering tidak masuk kamera.

Seorang pengusaha terlihat ketika sudah sukses. Kita tidak melihat sepuluh tahun kegagalannya.

Seorang kreator terlihat ketika videonya viral. Kita tidak melihat ratusan video yang tidak ditonton.

Seorang ilmuwan dikenal ketika menemukan sesuatu. Kita tidak melihat ribuan eksperimen yang gagal.

Seorang atlet terlihat ketika memenangkan pertandingan. Kita tidak melihat latihan panjang ketika orang lain masih tidur.

Kita hanya melihat episode terakhir.

Padahal kehidupan sebenarnya adalah seluruh episodenya.

Mungkin inilah pelajaran penting dari fenomena micro-drama China.

Bukan berarti kita tidak boleh menonton drama, tetapi jangan sampai kita mengira kehidupan harus bekerja seperti drama.

China Sedang Menertibkan Cerita, Dunia Perlu Belajar Bersikap Kritis

China melihat sebuah industri hiburan yang berkembang sangat cepat, memiliki nilai ekonomi besar, menjangkau ratusan juta penonton, dan semakin didukung teknologi kecerdasan buatan.

Pemerintah kemudian memperketat pengawasan terhadap konten yang dianggap bertentangan dengan nilai sosial yang ingin dipertahankan.

Apakah semua alasan pemerintah China harus kita setujui?

Tidak.

Apakah kebijakan sensor negara harus ditiru mentah-mentah?

Juga tidak.

Kebebasan berekspresi, kreativitas, dan tanggung jawab sosial tetap perlu ditempatkan dalam pembahasan yang seimbang.

Namun, ada pertanyaan yang layak kita renungkan:

Apa yang terjadi pada sebuah masyarakat ketika industri hiburannya semakin pintar menjual fantasi, sementara kehidupan nyata semakin menuntut ketahanan, keterampilan, dan kerja keras?

Pertanyaan itu tidak hanya relevan bagi China, tetapi juga bagi Indonesia.

Kesimpulan: Jangan Sampai Hidup Kita Berjalan Seperti Micro-Drama

Jadi, benarkah China melarang dracin karena takut rakyatnya menjadi pemalas?

Tidak. Kesimpulan itu terlalu sederhana.

Yang terjadi adalah China memperketat pengawasan terhadap industri micro-drama yang berkembang sangat besar. Regulator secara eksplisit menargetkan sejumlah konten yang dianggap mempromosikan pemujaan terhadap uang, pamer kekayaan, gaya hidup berlebihan, kekerasan balas dendam, dan nilai-nilai sosial yang tidak sehat.

Namun, fenomena ini membawa kita pada pertanyaan yang jauh lebih besar.

Apakah manusia bisa terlalu lama hidup di dalam fantasi?

Apakah kita mulai kehilangan kemampuan untuk menikmati proses?

Apakah kita ingin hasil, tetapi tidak ingin menanggung perjuangan?

Apakah kita ingin kaya, tetapi tidak ingin belajar?

Apakah kita ingin terkenal, tetapi tidak ingin membangun kemampuan?

Dan yang paling berbahaya, apakah kita mulai percaya bahwa suatu hari akan datang seseorang yang menyelamatkan kita?

Sebab kehidupan bukan micro-drama.

Tidak ada episode 47 yang tiba-tiba membongkar identitas kita sebagai pewaris konglomerat. Tidak ada CEO yang selalu datang mengetuk pintu rumah. Tidak ada musik dramatis ketika kita mendapatkan pekerjaan.

Yang ada hanyalah belajar, bekerja, gagal, bangkit, mencoba lagi, dan mengulanginya.

Mungkin terdengar membosankan.

Tetapi justru dari proses itulah manusia dibentuk.

Bukan fantasi tentang menjadi hebat yang membuat manusia hebat, melainkan kesediaannya menjalani proses ketika belum ada seorang pun yang menganggap dirinya hebat.

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.